Potensi Bisnis Tanaman Jarak (Ricinus communis)

Yudi Anto

Abstract


Malam pelan-pelan menyelimuti kota Mataram, NTB. Saat semua orang bercengkerama bersama keluarga, Willy Wijaya sibuk mondar-mandir di teras rumah, la resah menanti pengiriman 2 ton biji jarak dari kebunnya yang tak kunjung tiba. "Malam ini biji harus segera dikirim ke Surabaya," ujarnya.

Selama 45 menit menunggu, kiriman yang dinanti datang juga. Dengan sigap 3— 4 karyawan Willy langsung menurunkan 2 ton biji jarak dari atas truk. Di bawah cahaya petromaks, Willy menyeleksi biji berkualitas. “Kalau bijinya basah dan retak, tidak diterima,” katanya.

Berselang sejam, biji Jatropha curcas asal kebun miliknya di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, itu dimasukkan dalam 20—50 karung goni. Setiap karung memuat 25 kg. Malam itu juga pesanan untuk Surabaya segera dikirim. Di sana beberapa pengepul sudah menanti. Pengepul dari Jember memesan 250 kg, Boyolali 200 kg, Kediri 100 kg, dan sisanya untuk pekebun di Surabaya.

Dikebunkan

Begitulah kesibukan Willy bila pengusaha-pengusaha minyak dan perkebunan meminta biji jarak. Setiap bulan ia mengirim minimal 1—2 ton. Maklum, permintaan dari luar Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi pun terus mengalir dengan jumlah sama. Itu belum termasuk permintaan perusahaan minyak swasta di Jakarta yang rata-rata meminta 2—3 ton/bulan. “Jika dihitung-hitung total permintaan jarak mencapai 15—18 ton selama 2005,” kata pakar pertanian lahan kering itu. Bila harga biji jarak Rpl0.000/kg, maka pendapatan Willy mencapai Rp 150-juta—Rp 180-juta/tahun.

Biji jarak diperoleh dari 6.000—7.000 pohon berumur 3—4 tahun. Produksi setiap pohon mencapai 3—5 kg per tahun. Artinya Willy bisa memanen 18— 35 biji kering per musim dari luasan 3 ha. Ke depan kebutuhan minyak jarak untuk pengganti solar akan jauh lebih tinggi,” ujar kelahiran Mataram 25 Desember 1936 itu.

Kini jejak Willy ditiru banyak petani setempat di Lombok Barat dan Lombok Utara. Mereka menanam jarak di sekeliling kebun atau halaman rumah. Contohnya Mira, pekebun jarak di Desa Gangga, Kecamatan Gangga. Ia bisa memanen 2 ton biji jarak dari 2.000 pohon yang ditanam di halaman rumah dan kebun. Mira menjual biji jarak kepada pengepul lokal yang kemudian menyalurkannya ke pengusaha atau calon pekebun.

“Seminggu mereka (pengepul, red) bisa ambil 5—10 kg/orang. Padahal setiap minggu kadang 3— 5 orang yang datang,” katanya. Meski harga hanya Rp 1.000—2.000/kg, ia bisa meraup untung bersih hingga Rp2-juta—Rp4-juta setahun. Maklum, biji jarak boleh dibilang diproduksi tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun.

Untuk bibit

Permintaan biji Jatropha curcas itu memang kian meroket. Bila dibandingkan setahun silam,lonjakannya luar biasa. Ir Muchsin Alexandra MSi, misalnya, mengatakan permintaan biji jarak naik hingga 50—100%. Setiap bulannya staf Balai Pendidikan Pertanian NTB itu mampu memasarkan 15—20 ton biji jarak. Biji jarak yang dikumpulkan dari 600 pekebun di seluruh NTB dan NTT itu dijual dengan harga Rp7.000—Rpl0.000/kg.

“Saya kelimpungan memenuhi permintaan,” ungkap Muchsin. Musababnya, permintaan tak hanya datang dari calon pekebun di wilayah NTB dan NTT yang masing-masing meminta 5—10 ton per bulan. Dinas Perkebunan NTT sendiri minta pasokan 21 ton dan sebanyak 10 pondok pesantren di NTB 5 ton per bulan. Provinsi Gorontalo juga membutuhkan pasokan biji jarak 60—70 ton/bulan; HKTI di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan masing-masing 50 ton. Belum lagi perusahaan swasta di Jakarta yang menginginkan secara kontinu pasokan biji jarak 3 ton per bulan.

Senada dengan ucapan H Sofyan, pengepul jarak di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Sejak 6 bulan silam, sekretaris DPRD Kabupaten Dompu itu kewalahan memenuhi pesanan 1—2 ton/bulan. “Permintaan melonjak. Dulu hanya 10— 30 kg per bulan,” katanya. Wajar jika harga pun mulai merangkak naik. Sofyan menjual setiap kilogram biji jarak kering Rp4.000—Rp5.000. Alhasil omzet yang diperolehnya berkisar Rp4-juta—Rp5-juta per bulan.

Harga biji jarak sekarang ini memang tergolong tinggi. Bayangkan sebelum pemerintah melalui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mencanangkan program pengembangan jarak, harga di tingkat pekebun tidak bergeser dari Rp 1.500—Rp2.000/kg. Itu pun jumlah pembelinya terbatas. Hanya pekebun-pekebun tertentu yang mempunyai akses ke pabrik pengolahan yang bisa mendapatkan harga baik.

Penelusuran Trubus ke sentra-sentra penanaman, tingginya harga biji jarak semata karena untuk dijadikan bibit oleh calon pekebun. Sementara industri-industri yang kelak bersedia menampung biji jarak untuk diolah sebagai biodiesel hanya mematok harga pembelian Rp500—Rpl.000/kg. Oleh karena itu pula Theresia Prawitasari, pembina pekebun jarak di NTB dan NTT, tidak menyarankan penanaman secara monokultur.

Menurut hitung-hitungan almnus S3 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor itu produksi perdana saat pohon berumur 1 tahun hanya 1 ton/ ha. Dengan harga jual maksimal Rp1.000/kg, V pekebun hanya memperoleh pendapatan Rp1 juta/tahun. Sebaiknya tumpang sari dengan jagung, kacang kedelai atau kacang tanah agar bisa menutupi kebutuhan petani .

Setek laris

Antusias masyakat untuk mengembangkan jarak memang tak terbendung lagi. Buktinya bukan hanya biji jarak yang diminta untuk dijadikan benih, tapi juga bibit jarak berupa setek. Setek batang setinggi 50—60 cm jadi buruan para calon pekebun. Minarah, misalnya, sejak 2—5 bulan terakhir sudah menjual 2- juta—2,5-juta setek ke beberapa koperasi di Mataram dan pengusaha lain di Jakarta. Dengan harga jual Rp3.500 per 30 setek ibu berpenampilan sederhana itu meraup omzet minimal Rp200-juta.

Ketika Mitra Usaha Tani bertandang ke Provinsi Sejuta Mesjid itu pada akhir Maret 2006, di sepanjang jalan-jalan protokol yang menghubungkan kota Mataram dengan Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur dijajakan setek-setek bibit jarak dalam jumlah besar. “Permintaan setek sangat besar. Dari Pulau Lombok saja sudah keluar puluhan juta batang, belum lagi dari NTT,” kata Ir Wirham MSi, kepala Dinas Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Bibit jarak dikirim ke beberapa daerah Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Kalimantan.

“Pembeli banyakyanglangsungdatangkeMataram untuk mendapatkan bibit sekaligus mengetahui cara budidaya jarak,” kata Ir Bahruddin, kepala Balai Perbenihan Tanaman Perkebunan Provinsi NTB. Menurut Bahruddin Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Jember, dan Surabaya membutuhkan dalam jumlah banyak.

Makanya Eddy Entum telah siap siaga menyiapkan bibit hasil kultur jaringan untuk memenuhi permintaan. “Ini untuk menopang keperluan bibit skala tanam ribuan hektar,” katanya. Menurut alumnus Fakultas Teknik Industri, Institut Teknologi Bandung, iti. dengan teknik in vitro bibit bisa diproduksi massal dalam waktu singkat. Yang lebih penting harganya pun relatif murah Rp750—Rp1.000/tanaman, sehingga tidak memberatkan calon pekebun.



Refbacks

  • There are currently no refbacks.


The Thai Journal of Mathematics is supported by The Mathematical Association of Thailand and Thailand Research Council and the Center for Promotion of Mathematical Research of Thailand (CEPMART).

Copyright 2022 by the Mathematical Association of Thailand.

All rights reserve. No part of this publication may be reproduced, stored in a retrieval system, or transmitted, in any form or by any means, without the prior permission of the Mathematical Association of Thailand.

|ISSN 1686-0209|